Museum mandala wangsit siliwangi dibuka oleh komandan kodam militer VI siliwangi, pada tanggal 23 mei 1966. museum ini merupakan gambaran dari perjuangan militer divisi siliwangi dan rakyat jawabarat yang telah ada sejak tahun 1946 yang saat itu komandan pertama bernama kolonel AH. Nasution.
museum ini berada di jalan lembaong no 38 Bandung. Koleksi museum ini antara lain berupa senjata tradisional, mebelair, lukisan peristiwa Bandung Lautan Api, koleksi khusus milik Husein Somaprawira, senjata samurai, dan senjata-senjata asli indonesia khususnya dari jawa, serta berbagai bendera dan lambang-lambang kesatuan.
Dimuseum tersebnut juga terdapat koleksi yang di pamerkan secara out door, seperti berbagai peralatan perang, tank, panser, dan canon.
- Sabtu, 06 Februari 2010
- desoulmate
-
Posted in
museum
Curug Sawer yang dikelola oleh KPH Perhutani ini memiliki area seluas 7 ha, terletak di desa Cililin. Selain dimanfaatkan sebagai tempat wisata, tak sedikit juga orang yang datang untuk sekedar berjogging sambil menikmati indahnya panorama alam yang disajikan. Dalam perjalanan menuju Curug Sawer ini, kita akan melewati hutan pinus dengan udara yang sangat segar.
Untuk bisa sampai dilokasi wisata ini kita tidak perlu bingung, dengan menggunakan kendaraan sendiri, kita akan menempuh perjalanan selama 1 jam, lokasinya pun tidak terlalu jauh dari jalan raya. Di tengah jalan kita akan menemukan jalan menanjak yang sangat tajam. Wana wisata ini banyak dikunjung masyarakat sekitar curug pada hari Sabtu dan Minggu.
- Selasa, 26 Januari 2010
- desoulmate
-
Posted in
Luas 5ha, KPH Bandung, BKPH Manglayang Barat, RPH Arca MAnik, Kabupaten Bandung, Kecamatan Cicadas, desa Mekar Manik. Wana wisata ini terletak pada ketinggian 800 m dengan suhu udara 19-26C.
Wana wisata ini terdiri dari hutan tanaman campuran (pinus, cemara dll). Sumber air yang ada berupa mata air yang ada saat ini dimanfaatkan untuk keperluan pengunjung dan masyarakat setempat. Potensi visual lanserkap didalam kawasan yang menarik antara lain adalah hutan alam, hutan tanaman campuran, pemandangan kota Bandung dan udara dataran tinggi yang sejuk.
Kegiatan wisata di WW oray Tapa adalah berkemah dan pemandian alam dimata air. Sejak pertengahan September 1997, hutan pinus dipetak hutan 41 terdapat sumber air yang justru muncul pada saat musim kering. Sumber mata air ini menjadi terkenal setelah seorang penderita lumpuh dari Antapani Bandung datang dan mandi dilokasi tersebut. Sebelumnya ia mengaku mendapat mimpi yang menurut keyakinannya merupakan wangsit (Petunjuk dari Yang Maha Kuasa) agar ia mandi disebuah pancuran yang baru timbul dihutan bertumbuhan pinus itu. Kebetulan penderitanya selama 6 tahun itu selesai begitu usai mandi dipancuran tersebut. Kemudian disusul oleh 4 orang lainnya yang menderita berbagai penyakit termasuk seorang dari Majalaya yang sudah lama berpenyakit menggigil dan kaki tangannya kaku. selesai mandi disana lelaki asal Majalaya ini langsung berangsur sembuh dan pulang dalam keadaan segar bugar.
Dua sumber air yang keluar dari tebing itu kini diatur dan ditertibkan dengan mengalirkannnya pada 9 pancuran dan untuk sementara disekat-sekat.
Fasilitas wisata yang tersedia didalam kawasan wana wisata ini berupa papan petunjuk, loket karcis, tempat parkir, jalan setapak, tempat duduk, mushola, MCK dan shelter.
Tahun 1837, seorang Belanda peranakan Jerman bernama Dr. Franz Wilhem Junghuhn (1809-1864)
mengadakan perjalanan kedaerah Bandung selatan. Ketika sampai dikawasan tersebut Junghuhn merasakan suasana yang sangat sunyi dan sepi, tak seekor binatang pun yang melintasi daerah itu.
Ia kemudian menanyakan masalah ini kepada masyarakat setempat dan menurut masyarakat kawasan gunung Patuha sangat angker karena merupakan tempat bersemayamnya arwah para leluhur serta merupakan pusat kerajaan jin. Karenanya bila ada burung yang lancang berani terbang diatas kawasan tersebut akan jatuh dan mati. Meskipun demikian, orang Belanda yang satu ini tidak begitu percaya akan ucapan masyarakat. Ia kemudian melanjutkan perjalanannya menembus hutan belantara digunung itu untuk membuktikan kejadian apa yang sebenarnya terjadi dikawasan tersebut. Namun sebelum sampai dipuncak gunung, Junghuhn tertegun menyaksikan pesona alam yang begitu indah dihadapannya, dimana terhampar sebuah danau yang cukup luas dengan air berwarna putih kehiajuan. DAri dalam danau itu keluar semburan lava serta bau belerang yang menusuk hidung. Dan terjawablah sudah mengapa burung-burung tidak mau terbang melintasi kawasan tersebut.
Dari sinilah awal mula berdirinya pabrik belerang kawah putih dengan sebutan dizaman Belanda Zwavel Ontgining Kawah Putih. Dizaman Jepang usaha pabrik ini dilanjutkan dngan menggunakan sebutan kawah putih kenzonka Yokoya Ciwidey, dan langsung berada dibawah pengawasan militer.
Cerita dan misteri tentang kawah putih terus berkembang dari satu generai masyrakat kegenerasi masyarakat berikutnya. Hingga kini mereka masih percaya bahwa kawah putih merupakan tempat berkumpulnya roh para leluhur . Bahkan menurut kuncen Abah KAran yang sekarang berumur 105 tahun dan bertempat tinggal dikampung Pasir Hoe , Desa Sugih Mukti, dikawah putih terdapat makam para leluhur diantaranya: Eyang Jaga Satru, Eyang Rangsa Sadana, Eyang Camat, Eyang Ngabai, Eyang Barabak, Eyang Baskom dan Eyang Jambrong. Salah satu puncak gunung Patuha, Puncak Kapuk dipercaya sebagai tempat rapat para leluhur yang dipimpin oleh Eyang Jaga Satru. Ditempat ini masyarakat sesekali melihat (secara gaib) sekumpulan domba berbulu putih (domba lukutan) yang dipercaya sebagai penjelmaan dari para leluhur.
Alam pemandangan disekitar kawah putih cukup indah dengan air danau berwarna putih kehijauan sangat kontras dengan batu kapur putih yang mengitari danau tersebut. Disebelah utara danau berdiri tegak tebing batu kapur berwarna kelabu yang ditumbuhi lumut dan berbagai tumbuhan lainnya.
Franz Wilhem Junghuhn kini sudah lama tiada, namun penemuannya yang dikenal dengan nama kawah putih masih tetap anggun mempesona sampai saat ini.
Sungai Palayangan merupakan salah satu pilihan tempat berkegiatan arung jeram yang relatif dekat dari kota Bandung. Sungai ini terletak 45 km di selatan Bandung, tepatnya di Pangalengan. Air sungai Palayangan berasal dari Situ Cileunca, sebuah danau buatan dengan luas lebih dari 14.000 m2 yang dikelilingi oleh hutan pinus, perkebunan teh dan kebun sayuran.
Air sungai ini sebenarnya diperuntukkan untuk PLTA PLN Pangalengan. Walaupun relatif sempit, Sungai Palayangan memiliki gradien tinggi sehingga arus sungai cukup kencang dengan kelas jeram antara III - IV. Lintasan pengarungan adalah sekitar 4, dengan 14 jeram antara lain jeram selamat datang, rungkun, blender, es, kecapi, comba, anak domba, gadis 1, gadis 2 dan rahong.
Kegiatan berarung jeram ini menghabiskan waktu sekitar 1,5 - 2 jam.